
Jalur Gaza dan Anakku
Akhir tahun 2008 terjadi malapetaka kemanusiaan, Zionis
Di hari ketiga tepatnya 31 Desember 2008 televisi melansir berita yang meninggal sudah 400 orang tidak berdosa. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan, darah berceceran hingga melumuri
Sementara di rumahku, anak keduaku tiba-tiba panas demam tinggi hingga Kami sekeluarga panik. Ya.. Gaza Lazuardi Chandra anak keduaku demam, panasnya pertempuran di jalur
Malam tahun baru aku lewatkan dengan was-was karena istri tercintaku juga sudah seminggu ini sakit, dan sekarang anak keduaku juga sakit. Sudah dua dokter telah aku kunjungi, untuk istri maupun untuk
Bulan sabit masih menggantung, dan pukul 24.00 wib pun dikagetkan dengan bunyi petasan dan kembang api yang saling berhamburan. Entah berapa milyar rupiah yang di bakar untuk itu semua, aku termangu bersama Gibran anak pertamaku disamping rumah.
Sesekali Gibran takjub oleh kreasi kembang api yang warna-warni bertebaran di atas langit. Kadang mulutnya yang rewel menanyakan beberapa hal tentang petasan, dan kadang juga aku tak tahu harus menjawab apa. Momen pergantian tahun lewat sudah, Gibran sudah kembali ke kamar dan beranjak tidur. Sementara aku masih merenung di tepi tahun merunuti dosa yang kian menggunung. Selamat Tahun Baru 2009 untuk Dunia, Selamatkan juga Palestina!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar